~ Ruang Keluarga ~

‎*** RUANG KELUARGA ***
Masih ingat ayat Agung nan indah yang tertulis di kartu undangan pernikahan?

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram kepadanya, dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Betapa indah suasana saat itu…
Pesta meriah…, terangnya lampu dan pijar cahaya di mana-mana, senyum dan tawa diiringi lantunan lagu merdu…, hidangan aneka makanan, buah-buahan dan minuman…
Iringan ucapan selamat juga doa berdatangan dari para undangan..
Rasa syukur dipanjatkan dari kedua orang tua.. keluarga… kerabat dan handai tolan.

Namun…
Beberapa hari kemudian…
Mungkin hitungan minggu…, mungkin hintungan bulan… mungkin hitungan tahun…
‘tragedi’ mengancam.. badai tsunami bisa menghantam bahtera rumah tangga…
Senyum dan tawa ikut hanyut bersama air mata kepedihan dan kekecewaan yang mendalam..
Langit gelap menutup pandangan pikiran dan emosi jiwa, seolah diri ingin berlari mengakhiri apa yang terjadi..
Inilah prahara kesedihan menusuk hati dan perasaan yang bisa saja datang menghampiri.

Semua orang tak ingin peristiwa ini terjadi.
Setumpuk doa-doa dan harapan, serta ucapan selamat di awal pernikahan seolah tertiup angin tak berbekas.., tak memaknai mahligai suci kasih sayang dibalik tirai pernikahan.

jasad bertanya : mengapa hal ini terjadi.. ?
Jawaban singkat : jodoh telah berhenti !..
Lalu .. kalau berhenti, mengapa di awal pernikahan di katakan ‘mereka telah berjodoh..?’

Hati mencoba bertanya tentang cinta dan jodoh kepada Nabi Allah Adam :

“Cinta adalah kesendirian, dan ketika kesendirian menciptakan sunyi, sepi dan khuyu’… muncullah cahaya jelita dari balik tulang rusuk-ku, bidadari indah, bermata laksana bintang, pipi seputih rembulan, rambut terurai, bulu mata lentik dan bibir senantiasa berhias senyum sang fajar”

“Aku memeluk dia seperti aku memeluk diriku, tetapi dalam wajah berbeda, aku pandangi senyuman bibirnya.. aku melihat setumpuk gunung madu, maniss rasa syukurku…, lalu aku meraba bibirku dan aku merasakan manisnya setetes madu.”

Aku bertanya, siapa namamu?
“Hawa”,

Siapa sesungguhnya engkau?
“Aku adalah bayanganmu, bayangan cahaya hasrat putih tulus hatimu”

Mengapa engkau berbeda?
“Karena aku punya nama, engkau Adam dan aku Hawa”

Kalau boleh aku bertanya padamu, wahai kanda Adam..
“Apa beda manis segunung madu senyumku dan setetes madu di sudut senyummu..?”

…………………………………

Suka ·  · Berhenti Mengikuti Kiriman · 12 September 2012 pukul 0:28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s